Kevina Bali

all about balinesse life

JADIKAN BALI SEBAGAI ”CULTURE CHIP”

tanah lot

Setiap membicarakan masalah dalam pengelolaan pe mbangunan di Bali mau tidak mau kita harus membicarakan pemerintah sebagai pemberi izin dan investor sebagai yang memohon izin. Ketika masyarakat tidak sadar akan kekeliruan dalam pemberian izin maka investor maupun pemerintah akan aman-aman saja. Tetapi tidak selalu demikian keadaannya. Tidak jarang terjadi, masyarakat memprotes kebijakan pemerintah dalam pemberian izin kepada investor. Hal itu terjadi, ketika masyarakat merasa hak-hak publiknya terusik, terganggu atau terhalangi.

Dengan bangkitnya kepedulian masyarakat terhadap lingkungannya serta hak-haknya maka muncullah berbagai masalah ke permukaan. Bangkitnya kepedulian masyarakat adalah sebuah petanda yang sangat baik dan harus didukung oleh semua pihak, sepanjang penyampaian kepedulian itu sesuai dengan etika, prosedur dan aturan-aturan yang ada.

Kebangkitan keberanian masyarakat untuk mengungkapkan kepeduliannya harus menjadi perhatian pemerintah untuk lebih cermat dalam mengeluarkan izin maupuan dalam menyusun peraturan. Di sisi lain juga harus menjadi pelajaran bagi investor agar tidak menutup mata dan hati terhadap hal-hal yang tidak mungkin ditabrak karena menyentuh kepentingan publik paling substansial.

Orang Bali sangat bangga memiliki falsafah Tri Hita Karana yang katanya sudah mendapat pengakuan dari PBB. Sayangnya di pulau yang memiliki falsafah Tri Hita Karana justru menghadapi berbagai persoalan yang justru bertentangan dengan falsafah tersebut.
Kekeliruan kita selama ini adalah karena kita belum mampu menyusun indikator-indikator yang kongkret sebagai pedoman untuk menentukan apakah sebuah usaha atau tempat telah memenuhi kriteria Tri Hita Karana tersebut atau belum.

Aktivitas ritual belum sepenuhnya merupakan penyelesaian berbagai masalah. Ritual hanyalah sekadar sarana untuk menumbuhkan keyakinan pada diri sendiri untuk menyelesaikan masalah di lapangan. Tanpa dilanjutkan dengan tindakan nyata masalah akan tetap ada dan sewaktu-waktu bisa meletupkan konflik terbuka.

Justru organisasi seperti Green Globe yang tidak memiliki falsafah Tri Hita Karana telah mampu menyusun indikator-indikator untuk mengatur agar sebuah usaha, produksi atau daerah tidak melakukan kegiatan yang mengeksploitasi lingkungan, masyarakat atau budaya dalam mencari keuntungan.

Jika dua gubernur di Papua dan satu gubernur di NAD telah bersepakat untuk menjadikan hutannya sebagai carbon chip untuk mengimbangi pemanasan global maka sudah saatnya Gubernur Bali dan seluruh bupati/waki kota bekerja sama untuk menjadikan Bali sebagai culture chip guna mengimbangi budaya hedonis yang hidup di tengah masyarakat kita belakangan ini. Budaya Bali sangat layak untuk menjadi culture chip mengingat budaya Bali merupakan miniatur dari budaya Nusantara atau Indonesia.

Menurut spiritualis Anand Krishna dalam bukunya berjudul ”Indonesia Jaya”, budaya Indonesia adalah bagian dari sebuah peradaban yang membentang dari wilayah Gandhar (sekarang Afghanistan) sampai dengan Astrale (sekarang Australia). Budaya ini oleh para filsuf Timur Tengah disebut budaya Hindustan, budaya dari kehidupan orang-orang di balik Sungai Sindu.

Hukum karma, hukum sebab akibat atau hukum aksi-reaksi adalah sebuah hukum alam yang tidak bisa diakali oleh siapa pun. Ketidakpercayaan kita terhadap hukum ini tidak berarti hukum itu tidak berlaku bagi kita. Bahkan tidak jarang proses dan waktu berlakunya sangat gamblang di depan mata. Masalah orang mau menerima atau menolak hukum aksi-reaksi, sebab-akibat ini, itu persoalan lain.

Apa yang terjadi saat ini adalah akibat dari perilaku kita di masa lalu. Oleh karena itu maka masa depan kita tentukan saat ini. Kita adalah arsitek bagi masa depan kita sendiri. Perilaku saat ini akan menentukan apa yang kita nikmati di masa kini dan mendatang. Kebaikan atau keburukan yang menimpa diri, perilakulah yang mempengaruhinya. Dengan berbekal intelektualitas, akal sehat dan hati nurani kita bisa menciptakan masa depan yang kita cita-citakan.

Sumber : Balipost

June 26, 2009 - Posted by | Art & Culture | ,

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Archives

  • Blog Stats

    • 127,997 hits
  • Recent Posts

  • ardha candra arsitektur art center artshop asta bhumi asta kosala kosali bajra sandhi bali bali kite festival barong bbm breakfast buleleng cara celuk chevrolet culture dahsyat emas galungan gambelan gamelan gedung gong kebyar healthy hemat heritage ideal janger jegog jembrana joged kadar kerajinan kesehatan kite layang-layang melasti merawat mobil monumen museum museum bali ngaben nyepi obat obyek wisata ogoh-ogoh pande pariwisata pelabuhan pelebon perak perhiasan perpustakaan pesta kesenian bali pete pitra yadnya PKB sarapan sejarah Seks seksual seni situs sudamala sunset tahun baru saka tamblingan tari tari baris tari pendet tema tips tradisional
  • Event

    June 15 - July 13, 2013

    Bali Art Festival XXXV 2013
    “Taksu : Membangkitkan Daya Kreatif dan Jati Diri”
    Please visit http://www.baliculturegov.com or contact: 0361. 243 621 for detail information & schedule

    kitefest2009

    July, 2013

    The annual event takes place around July or August as the strong wind heads for Padanggalak, Sanur, where the festival is held. Never imagine numerous small colourful kites decorate the blue sky above Sanur beach as the festival shows off various forms and colours of giant kites of 10-meter width. It is really about the competition of Balinese's creativity.

    bali10k

    August, 2013

    The month of August in Bali witnesses the great commemoration of the anniversary of Bali Province that takes place on August. The running competition takes participation of elite athletes from international, national, public and students. As part of sport tourism, this event is expected to draw a big number of tourists to highlight this event on their holiday agenda.

    sanurfest

    September 26th - 30th, 2013

    Amongst the foreign arrivals, Europe particularly, Sanur suits their best taste. The green view of villages in Sanur area which is well sustained inspires the organization of Sanur Village Festival that brings along a series of cultural events, music shows and culinary festival, also dance performances and water sports activities. Besides, through this event, the villagers around Sanur can merge with international community.

    kutakarnival2008

    October, 2013

    The carnival that takes place in the most famous tourist spot in Bali, Kuta beach, is usually held towards end of the year, like in October or September. It is a complete annual occasion consisting of beach sports, art and cultural, food festival, and painting exhibition centered at bursting Kuta.

    nusaduafiesta

    November, 2013

    Taking place in the best tourist spots, Nusa Dua and Peninsula Island, an annual festivity of Nusa Dua Fiesta is scheduled in October. The special 4-day occasion combines art and cultural activity, sport, music and exhibition also.

  • Partner

    Bali Post
    BaliBlogger
  • SAMSUNG Galaxy S4 [i9500] - White
    APPLE iPhone 5 16GB by Telkomsel - Black
  • %d bloggers like this: